ANAK BUKAN KOMODITAS INVESTASI ORANG TUA
September 15, 2007
Penulis : Sartono Mukadis, Psikolog
Di Jakarta
Meski diantar oleh ibunya, pemuda ini bukan anak lagi karena usianya mendekati 23 tahun. Parasnya ganteng dan hasil evaluasi psikologinya pun tergolong di atas rata-rata. Sekarang sedang kuliah di perguruan tinggi ternama. Masalah meledak ketika ia kembali mogok total kuliah, hal yang dilakukannya saat kuliah di dua perguruan tinggi lainnya.
Sepanjang pertemuan, 83% percakapan diisi oleh cerita “kebijaksanaan” si ibu, 3% sesekali anggukan si anak, 8% oleh kata pembuka saya—itu pun belum sempurna benar—sisanya oleh office boy yang masih saja mengirim minuman walau di pintu jelas tergantung tulisan “ADA KONSELING”
Tidak perlu ikut kuliah Prof. Singgih Gunarsa di bagian Psikologi Anak UI untuk memperkirakan pola asuh seperti apa yang dialami pemuda kita ini. segala sesuatunya diarahkan, dipilihkan, dijauhkan, dipalingtahui, dan sejumlah “di-” lainnya.
Lain lagi dengan seorang ibu yang mengeluh anaknya susah sekali konsentrasi. Padahal sudah dimasukkan ke les bahasa Mandarin, bahasa Inggris, matematika, musik, dan speed reading. Saya kaget ketika mengetahui umur si anak. “Bulan depan dia lima, Dok…,” jawab suster pengasuhnya.
Kasus yang mirip saya peroleh dari reality show “Penghuni Terakhir” di salah satu stasiun teve swasta. Dalam audisi di setidaknya enam kota besar dengan ribuan calon, kami menemukan hampir 80% peserta bermasalah dengan orangtuanya. Sebagian besar bukan masalah perlakuan fisik tetapi (terutama) mental.
Ada anak pejabat daerah yang mati-matian mau ikut agar terbebas dari ayahnya yang memaksa dia sekolah di jurusan yang ditetapkan orangtuanya. Meski hatinya berontak, ia selesaikan juga sekolahnya secepatnya karena ia ingin mendalami musik yang justru ditabukan ayahnya. Ia lulus dengan nilai terbaik! Setelah menyerahkan ijazah ke bapaknya, ia pun berpikir bisa mulai menekuni musik. Tetapi tidak sesederhana itu, ayahnya mengharuskan si anak masuk instansi tempat dia bekerja sebagai pimpinan!
Kemudian saat melintas di sebuah jalan di daerah Pondoklabu, Jakarta Selatan, saya sadar ternyata itu tak lebih dari rantai supply and demand. Tak lebih dari 1 km berjejer setidaknya tiga spanduk “preschool super care” plus English Matematic Intensive Drilling. Wow! Lengkap dengan psikolog sebagai pengajar dan tentu saja enrollment now-nya berdigit tujuh.
Padahal sejak lama kita sudah diperkenalkan dengan Law of Readiness (hukum Kesiapan). Mbok ya anak dikerok cincin lidahnya kalau belum waktunya ngomong, ya tidak bisa ngomong. Apalagi dipaksa cas-cis-cus Inggris pada usia 3-4 tahun.
Apa yang dapat kita petik dari kasus-kasus tadi? Anak diseragamkan, dilarang memilih, atau dijadikan komoditas investasi hari tua orangtuanya. Anak harys membawa nama baik orangtua, seolah-olah anak tidak memiliki kebanggaan sendiri.
Namun, dibandingkan dengan kekerasan fisik, kekerasan mental tak serta-merta segera mengundang perhatian. Kasus Raju di Sumut saya kira contoh buruk dari pengabaian pada korban kekerasan itu sendiri. Raju dan ortu-nya menjadi pahlawan terselubung. Tentu tidak perlu dihubungkan dengan wacana Kementerian Anak yang diembus-embuskan melalui beberapa social marketing yang cukup sistematik, seolah Kementerian Peranan Wanita tidak lagi memadai.
Ada sinyalmen yang masih harus dibuktikan: dibandingkan dengan 20 tahun silam, usia kematangan (pengetahuan dan kesadaran seksual) turun dari 15 – 17 tahun menjadi 12 – 13 tahun. Sementara usia kemandirian justru mundur, dari 20 – 23 tahun sudah mandiri sekarang 23 – 25 tahun masih bangga hidup melekat pada ortunya. Prognosa sebab-akibat yang terlalu jauh? Berlebihan? Semoga.
Dikutip dari : Majalah INTISARI Juli 2006 (154-155)