Xpango:Mendapatkan Apa Yang Kau Mau
November 3, 2007


Mau HP gratis? ato..newest IPOD nano gratis? IPHONE gratis? psp…or nintendo gratis??
pertama kali gw dpt email ini dr temen ga percaya sama sekali. krn mang pd dasarnya gw gak pernah percaya ma yang beginian.. hari gini, mana ada sih yg gratis? theres no free lunch in this world right?
1. Masuk ke sini
http://www.xpango.com/?ref=90934311
2. trus klik barang free apa yg lu mau ( ada hp, ipod, nintendo, psp,g ame machine )
3. klik SIGN UP ( GRATIS LHO)
4. isi REFERAL NUMBER-nya = 90934311 ,itu nomer gw.
Nanti akan ada email konfirmasi ke email loe yg jg ngasih refferal loe untuk ajak bergabung. makin byk yang loe refer makin banyak pula point yg loe dpt dan ketika kamu
dapetin jumlah point yg sesuai dgn hadiah / hpyg kamu minta, bakalan dikirim tuh Hp ke
alamat lu.. sbg contoh, Sony Ericsson K800i Silver nilainya 20 point, jd kalo kamu lu ajak 20 temen buat register aja, dapet deh tuh hp! asik buanget kan!???
jadi 1 point = 1 email orang registered di itungnya!
Nih gw kasih contoh list jumlah point yg dibutuhin utk tiap barang;
1. Microsoft gaming xbox 360 elite = 32 POINTS / 32 TEMEN yg registered
2. Playstation 3 = 42 points
3. PSP black, white, pink = 15-17 POINTS (beda2)
4. Nintendo wii = 19 points
5.Nintendo ds = 14 points
6.Apple Iphone = 27 points
7. ipod nano 8gb = 13 points
8. ipod touch 8 gb = 20 points
9. ipod touch 16gb = 27 points
10. Ipod classic 160 GB = 23 points
11. Ipod classic 80GB = 16 points
dll, masih buanyak lagi! rata jumlah point yg dibutuhin point every item DIBAWAH 50 POINTS semua.
Tunggu apa lagi? Segera ajak keluarga Anda untuk mengikuti Xpango. Xpango…. bukan yang lain.
Tips Kartu Kredit
September 21, 2007
Tidak sedikit persoalan yang menimpa masyarakat soal kartu kredit, yang menimbulkan masalah besar. Pemilik kartu kredit hidupnya semakin tidak nyaman, diteror, ditekan penagih (debt collector) dengan kata-kata kasar, bahkan ancaman. Namun, semua itu kini ada solusi dan penyelamatan. “Pemilik kartu kredit bermasalah tidak perlu lagi takut, itu bisa diatasi dengan mudah. Seberat apa pun masalahnya, saya akan membantu untuk bisa diselesaikan dengan cara yang saling menguntungkan, bukan dengan saling merugikan,” ungkap Sulaeman Hara, S. E., dari Catia Indonesia
Menurut Hara, yang sudah begitu lama mempelajari seluk-beluk kartu kredit ini, karena merasa prihatin, banyak di lingkungan tetangga dan kerabat yang menjadi “korban”. “Saya merasa prihatin dengan kondisi ini. sebenarnya, bank penerbit kartu tidak boleh mengambil atau menyuruh untuk menjual barang-barang milik pemegang kartu, untuk membayar tunggakan kartu kreditnya. Bahkan, misalnya, barang tersebut dibeli langsung dari kartu kreditnya. Di semua bank penerbit kartu kredit, termasuk di Indonesia, disediakan program yang mengakomodasi kondisi-kondisi ketidakmampuan seperti yang dialami banyak “korban” kartu kredit tersebut,” kata-nya
“Tapi celakanya, bank-bank tidak pernah menyampaikan atau menyosialisasikan program rescheduling, bila pemegang kartu menghadapi kesulitan, dengan uang muka sekian persen, untuk waktu sekian bulan. Ini menyesatkan dan memberatkan,” ujar Hara, yang sudah begitu banyak menolong pemilik kartu kredit bermasalah yang ditemui “PR” di kantornya, Jl. Wastukencana Bandung ini.
Menurut Hara, apabila ada pemegang kartu kredit mengalami kesulitan untuk membayar, sebenarnya bank penerbit kartu tersebut tidak mengalami kerugian sama sekali, seperti yang selalu digemborkan oleh para debt collector itu. “Karena sesungguhnya dana yang diterima pemegang kartu, sama sekali bukan dana dari bank penerbit kartu tersebut, tetapi berasal dari Master atau Visa. Jadi, tidak ada alasan lagi bank penerbit kartu untuk menolak permohonan kartu kredit, apabila ada yang mengajukan permohonan membayar sesuai dengan kemampuannya. Toh, Visa dan Master sudah mendapat klaim asuransi dan kemacetan. Mediasi inilah yang saya lakukan selama ini,” tutur Hara.
Dikutip dari : Harian Umum Pikiran Rakyat,
Kamis, 20 September 2007
Halaman 24
NB : Nah… para pemilik bank, makanya jangan tamak dan serakah…. OK?
ANAK BUKAN KOMODITAS INVESTASI ORANG TUA
September 15, 2007
Penulis : Sartono Mukadis, Psikolog
Di Jakarta
Meski diantar oleh ibunya, pemuda ini bukan anak lagi karena usianya mendekati 23 tahun. Parasnya ganteng dan hasil evaluasi psikologinya pun tergolong di atas rata-rata. Sekarang sedang kuliah di perguruan tinggi ternama. Masalah meledak ketika ia kembali mogok total kuliah, hal yang dilakukannya saat kuliah di dua perguruan tinggi lainnya.
Sepanjang pertemuan, 83% percakapan diisi oleh cerita “kebijaksanaan” si ibu, 3% sesekali anggukan si anak, 8% oleh kata pembuka saya—itu pun belum sempurna benar—sisanya oleh office boy yang masih saja mengirim minuman walau di pintu jelas tergantung tulisan “ADA KONSELING”
Tidak perlu ikut kuliah Prof. Singgih Gunarsa di bagian Psikologi Anak UI untuk memperkirakan pola asuh seperti apa yang dialami pemuda kita ini. segala sesuatunya diarahkan, dipilihkan, dijauhkan, dipalingtahui, dan sejumlah “di-” lainnya.
Lain lagi dengan seorang ibu yang mengeluh anaknya susah sekali konsentrasi. Padahal sudah dimasukkan ke les bahasa Mandarin, bahasa Inggris, matematika, musik, dan speed reading. Saya kaget ketika mengetahui umur si anak. “Bulan depan dia lima, Dok…,” jawab suster pengasuhnya.
Kasus yang mirip saya peroleh dari reality show “Penghuni Terakhir” di salah satu stasiun teve swasta. Dalam audisi di setidaknya enam kota besar dengan ribuan calon, kami menemukan hampir 80% peserta bermasalah dengan orangtuanya. Sebagian besar bukan masalah perlakuan fisik tetapi (terutama) mental.
Ada anak pejabat daerah yang mati-matian mau ikut agar terbebas dari ayahnya yang memaksa dia sekolah di jurusan yang ditetapkan orangtuanya. Meski hatinya berontak, ia selesaikan juga sekolahnya secepatnya karena ia ingin mendalami musik yang justru ditabukan ayahnya. Ia lulus dengan nilai terbaik! Setelah menyerahkan ijazah ke bapaknya, ia pun berpikir bisa mulai menekuni musik. Tetapi tidak sesederhana itu, ayahnya mengharuskan si anak masuk instansi tempat dia bekerja sebagai pimpinan!
Kemudian saat melintas di sebuah jalan di daerah Pondoklabu, Jakarta Selatan, saya sadar ternyata itu tak lebih dari rantai supply and demand. Tak lebih dari 1 km berjejer setidaknya tiga spanduk “preschool super care” plus English Matematic Intensive Drilling. Wow! Lengkap dengan psikolog sebagai pengajar dan tentu saja enrollment now-nya berdigit tujuh.
Padahal sejak lama kita sudah diperkenalkan dengan Law of Readiness (hukum Kesiapan). Mbok ya anak dikerok cincin lidahnya kalau belum waktunya ngomong, ya tidak bisa ngomong. Apalagi dipaksa cas-cis-cus Inggris pada usia 3-4 tahun.
Apa yang dapat kita petik dari kasus-kasus tadi? Anak diseragamkan, dilarang memilih, atau dijadikan komoditas investasi hari tua orangtuanya. Anak harys membawa nama baik orangtua, seolah-olah anak tidak memiliki kebanggaan sendiri.
Namun, dibandingkan dengan kekerasan fisik, kekerasan mental tak serta-merta segera mengundang perhatian. Kasus Raju di Sumut saya kira contoh buruk dari pengabaian pada korban kekerasan itu sendiri. Raju dan ortu-nya menjadi pahlawan terselubung. Tentu tidak perlu dihubungkan dengan wacana Kementerian Anak yang diembus-embuskan melalui beberapa social marketing yang cukup sistematik, seolah Kementerian Peranan Wanita tidak lagi memadai.
Ada sinyalmen yang masih harus dibuktikan: dibandingkan dengan 20 tahun silam, usia kematangan (pengetahuan dan kesadaran seksual) turun dari 15 – 17 tahun menjadi 12 – 13 tahun. Sementara usia kemandirian justru mundur, dari 20 – 23 tahun sudah mandiri sekarang 23 – 25 tahun masih bangga hidup melekat pada ortunya. Prognosa sebab-akibat yang terlalu jauh? Berlebihan? Semoga.
Dikutip dari : Majalah INTISARI Juli 2006 (154-155)
BUTUH SOFTWARE PERPUSTAKAAN
September 15, 2007
Kepada seluruh pembaca blog yang saya banggakan, saya sayangi, dan saya cin… ups! Salah! Maksudnya, yang saya hormati… dan yang saya banggakan (emang dibanggain, ya?)
1. Saya memerlukan bantuan Anda untuk mencari software perpustakaan (perpustakaan sekolah tepatnya, buat sirkulasi)
2. Dan saya juga membutuhkan software yang dapat mengatur koleksi ebook saya… (ada + 90 ebook)
Syarat-syaratnya:
(a) Freeware, alias GRATIS
(b) Proses pemasukkan data buku, data pengguna, dan data peminjaman dan penggunaan mudah dilakukan (user friendly)
(c) Spesifikasi minimal PC-nya Pentium 4 RAM 128 MB
(d) Tidak lelet…
(e) Installernya jangan lebih besar dari 20 MB (males ngedownlaodnya… )
(f) Optional :: ada ebook ttg pengoperasiannya
(g) Optional :: bahasa Indonesia
Bagi yang tahu dimana saya bisa mendapatkannya (link download, software author, dll), harap memberitahukan ke alamat akmal11235@gmail.com atau direply aja di sini. Sebelum n sesudahnya saya ucapkan thank you!
Ngakalin Billing Warnet
September 15, 2007
Ini dia caranya …
Saat kita mulai menyalakan komputer di warnet yang pertama muncul saat windows dimulai adalah login screen client billing yang menutupi seluruh area windows. Fungsi Alt+Tab dan Ctrl+Alt+Del biasanya ikut-ikutan di-disable untuk memaksa kita login melalui program billing itu. Sebenarnya saat kita menghadapi login screen itu komputer sudah siap dijalankan. Hanya terhalang oleh screen login yang MENYEBALKAN itu. Naah… udah tau apa yang bakal saya jelasin ? Kalo udah tau, brenti aja bacanya. Daripada mati kebosanan
Yess.. betul sekali. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyembunyikan jendela login itu tanpa perlu login. Ada banyak progie buat nyembunyiin window, salah satunya ZHider. Saya hanya akan menjelaskan penggunaan ZHider. Bagi yang menggunakan progie laen silakan baca manualnya, tapi yang perlu diperhatikan adalah progie yang anda gunakan harus bisa show/hide window pake hotkey coz windows kita kan ditutupi sama login screen sialan itu.
Yang harus disiapkan:
1. Program ZHider. Cari sendiri pake om google.
2. Muka bego
3. Mental yang sangat kuat (kalo ketahuan kan tengsin)
Langkah-langkahnya:
- Masuk warnet dan pasang muka bego biar ga dicurigai operator
- Pastikan selain box/bilik yang kita tempati masih ada box lain yang kosong. Biar ga dicurigai juga sih.
- Usahakan cari tempat yang jauh dari op, supaya ga ketahuan box kamu kosong apa nggak.
- Nyalakan kompi dihadapan anda bila masih dalam keadaan mati.
- Saat masuk login screen, login aja seperti biasa.
- Jalankan ZHider yang sudah disiapkan di disket/flashdisk. Kalo belom ada, cari aja pake google.
- Setelah ZHider dijalankan langsung aja logout.
- Naah, di login screen ini kita mulai aksi mendebarkan kita. Tekan Ctrl+Alt+Z.. Jreeeng, login screen telah menghilang !!!
- Browsinglah sepuasnya, tapi tetap pastikan ada box lain yang kosong. Kan aneh kalau ada yang masuk warnet, dia lihat udah penuh. Padahal di billing server kelihatan masih ada yang belum login.
- Kalo sudah puass tekan Ctrl+Alt+x untuk memunculkan kembali login screen yang menghilang entah kemana ![]()
- Login seperti biasa dan browsing beberapa menit sampai penunjuk tarif sampai ke angka yang kita kehendaki. Ini supaya ga dicurigai. (Iya donk, harus tetap bayar… kasian tuh yang punya warnet!)
- Logout. Siapkan muka bego, lalu bayar tarif.
Cara ini lebih mudah dilalukan bila si operator ga terlalu kenal sama kamu. Apalagi bila si operator sering keluyuran.
Ini beberapa hotkey ZHider yang bisa digunakan, untuk hotkey lainnya silakan baca file readme yang disertakan bersama Zhider
CTRL+ALT+Z Menyembunyikan jendela aktif
CTRL+ALT+X Menampilkan kembali semua jendela yang disembunyikan
CTRL+ALT+L Menampilkan dialog zhider
CTRL+ALT+M Menampilkan kembali semua jendela yang disembunyikan, dan juga menutup zhider.
Kalo cara di atas ga bisa dilakuin, hentikanlah usahamu. Sesungguhnya perbuatan jahatmu tidak diridoi Tuhan.
“Tulisan ini diambil dari: http://sugoistanley.wordpress.com/2007/04/18/hack-billing-explorer/, dengan beberapa perubahan”
Kontroversi The Da Vinci Code
September 10, 2007
Pas udah selesai baca buku The Da Vinci Codenya Dan Brown, asli aku melongo. Ini novel ato buku sejarah sih? Begitu banyak fakta (??) yang berpadu dalam narasi terangkum dalam satu novel, tetapi tetap asik buat dibaca. Bahasanya juga gak terlalu berat, singkatnya top banget, Te-O-Pe!
Saking antusiasnya ke The Da Vinci Code, gue punya tuh ebooknya, yang versi Indo (bahasa kita dong…) dan bahasa Inggris. Ampe mata berair kubaca kata-kata yang tersalin, kuresapi kedalamannya dan dengan jujur mengakui Dan Brown adalah maestro narasi dan fakta yang amazing banget!!
Tapi, yang buat aku kurang sreg, di ebook yang versi Indonya ada comment tentang novel itu, lho! Gue baca…. ya ampun, segitu kontroverisalnya…. ampe asup ke hati orang-orang ya, sebuah novel itu! Ini dia salah satu comment yang dah kusebut, coba baca deh!
KONTROVERSI THE DA VINCI CODE
DR DARRELL L. BOCK, professor Perjanjian Baru di Dallas Theological Seminary, tidak dapat menyembunyikan rasa geramnya, setelah membaca The Da Vinci Code. Katanya, “No longer is The Da Vinci Code a mere piece of fiction. It is a novel clothed in claims of historical truth, critical of institutions and beliefs held by millions of people around the world.” Jadi, kata professor ini, Da Vinci Code memang bukan sekadar novel fiksi biasa, tetapi sebuah novel yang diselubungi dengan klaim kebenaran historis dan kritik terhadap institusi dan kepercayaan agama Kristen.
Maka, Bock mengerahkan kemampuannya untuk menulis bantahan terhadap novel ini. Melalui bukunya, Breaking the Da Vinci Code (Nashville: Nelson Books, 2004). Bock melakukan kajian historis untuk mengkritik berbagai fakta sejarah yang disajikan Brown.
Bock hanyalah satu dari puluhan teolog Kristen yang tersengat The Da Vinci Code. Di toko-toko buku internasional, kini berjejer puluhan buku yang menyanggah novel itu.
Ya, The Da Vinci Code, memang hanya sebuah novel fiksi. Tetapi, novel itu telah menyengat dan menggoncang kepercayaan dalam tradisi Kristen yang telah berumur 2000 tahun. Maka, meski hanya sebuah novel, sebuah cerita fiksi, tetapi dihadapi dengan serius oleh kalangan teolog Kristen.
Novel yang dibaca oleh puluhan juta orang di dunia ini bagaimana pun termasuk luar biasa dan digarap dengan riset yang serius. Brown mengklaim bahwa berbagai fakta sejarah seputar Yesus, Maria Magdalena, Opus Dei, The Priori of Sion, yang dipaparkan dalam novelnya adalah 100 persen benar. “Semua deskripsi tentang karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritual rahasia yang dipaparkan dalam novel ini adalah akurat,” tulis Brown dalam pembukaan novelnya.
Mengapa novel ini begitu menyengat para teolog Kristen??? Itu tidak lain, karena novel ini memaparkan fakta-fakta baru tentang Yesus yang membongkar dasar-dasar kepercayaan Kristen yang bertahan selama 2000 tahun. Dalam Kristen, dogma pokok dan paling inti adalah kepercayaan tentang kebangkitan Yesus (resurrection). Bahwa setelah mati di tiang salib, Yesus bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa umat manusia. Dalam Bible Perjanjian Baru disebutkan, bahwa saksi pertama kebangkitan Yesus – yang menyaksikan kubur Yesus kosong – adalah seorang wanita bernama Maria Magdalena.
Anak Cucu Yesus
Jika dasar kepercayaan ini dibongkar, maka runtuhlah agama Kristen. Paul Young, dalam bukunya, Christianity, menulis, bahwa tanpa resurrection, maka tidak ada “kekristenan”. Ibarat potongan-potongan gambar (jigsaw), maka jika resurrection dibuang, jigsaw itu tidak akan membentuk apa yang disebut sebagai Christianity.
“We can not remove a portion of the Christian jigsaw labelled “resurrection” and leave anything which is recognizable as Christian faith. Subtract the resurrection and you destroy the entire picture.” (Paul Young, Christianity, London: Hodder Headline Ltd, 2003).
Nah, the Da Vinci Code adalah sebuah novel yang memporak-porandakan sebuah susunan gambar yang bernama Kristen itu. Betapa tidak, dalam novel ini, misalnya digambarkan bahwa sebelum disalib Yesus sebenarnya sempat mengawini Maria Magdalena dan mewariskan gerejanya kepada Maria Magdalena, bukan kepada Santo Petrus yang kemudian melanjutkan pendirian Gereja di Roma. Bahkan, bukan hanya kawin, Yesus pun punya keturunan dari Maria Magdalena, yang karena takut dikejar-kejar murid-murid Yesus maka melarikan diri ke Perancis. Keturunan Yesus itu masih tetap ada hingga kini, dan selama ratusan tahun memelihara tradisi Gereja garis Maria Magdalena. Rahasia ini masih tetap dipegang, dan disimpan dengan sangat ketat. Selama ratusan tahun itu pula, gereja Katolik berusaha memburu para penganut Gereja Maria Magdalena dan membantai anak keturunan Yesus yang dikhawatirkan mengancam kekuasaan Gereja Katolik dan Gereja-gereja yang menuhankan Yesus.
Dalam novelnya, cerita dan fakta sejarah seputar Yesus dihadirkan melalui dialog tokoh-tokohnya, sehingga terkesan sebagai ungkapan realitas sejarah. Karena itu, dalam beberapa iklannya, buku ini digambarkan sebagai “memukau logika dan menggoyang iman.” Bukan itu saja. Melalui The Da Vinci Code, Brown juga membangun citra buruk Vatikan dengan nyaris “sempurna”. Bagaimana, misalnya, Paus mendukung aktivitas Opus Dei, sebuah kelompok Katolik yang tidak segan-segan melakukan pembunuhan dengan kejam dalam menjalankan misinya.
Sebut misalnya, sebuah dialog antara agen Sophie Neveu, agen rahasia Perancis yang juga keturunan Maria Magdalena, dengan Leigh Teabing, seorang yang digambarkan sebagai bangsawan Inggris dan pakar sejarah Kristen. Sophie hanya terbengong-bengong mendapatkan berbagai fakta baru seputar Yesus dari Teabing. Ia sulit menolak bukti yang disodorkan Teabing dari Gnostic Bible, bahwa Yesus memang mengawini Mary Magdalena dan mempunyai keturunan. Di Gospel of Philip, misalnya tertulis :
“And the companion of the Saviour is Mary Magdalene. Christ loved her more than all the disciples and used to kiss her often on her mouth. The rest of the disciples were offended by it and expressed disapproval. They said to him, “Why do you love her more than all of us?”
Jadi, kata Bible ini, Yesus mempunyai pasangan bernama Mary Magdalena dan terbiasa mencium Maria di bibirnya. Yesus mencintai Magdalena lebih dari pengikutnya yang lain, sehingga menyulut rasa iri hati. Itulah yang akhirnya memicu pelarian Mary Magdalena dari Yerusalem ke Perancis dengan bantuan orang-orang Yahudi. Dalam bahasa Aramaic, kata “companion” menurut Teabing, bisa diartikan sebagai “pasangan”. Sophie yang membaca bagian-bagian berikutnya dari Bible Philip itu menemukan fakta betapa romantisnya hubungan Yesus dengan Maria Magdalena. Ia lalu mengingat masa silamnya, ketika para pendeta Perancis mendesak pemerintahnya untuk melarang peredaran film The Last Temptationn of Christ; sebuah film garapan Martin Scorsese yang menggambarkan Yesus mengadakan hubungan seks dengan seorang wanita bernama Maria Magdalena.
Dalam diskursus gender equality saat ini, wacana tentang pewarisan Gereja oleh Yesus kepada seorang wanita tentu saja sangat menarik. Sebab, hingga kini, gereja Katolik tetap tidak mengizinkan wanita menjadi pastor. Begitu juga dengan doktrin “larangan menikah bagi pastor” (celibacy), masih tetap dipertahankan, meskipun sekarang mulai banyak para teolog Katolik yang menggugat larangan kawin ini. Prof Hans Kung, misalnya, melalui bukunya, The Catholic Church : A Short History (New York: Modern Library, 2003), menyebut doktrin celibacy bertentangan dengan Bible (Matius, 19:12, 1 Timotius, 3:2). Doktrin ini, katanya, juga menjadi salah satu sumber penyelewengan seksual di kalangan pastor. Pendukung novel Dan Brown tentu akan setuju dengan gagasan Prof Hans Kung dan ide bolehnya wanita menjadi pastor. Logikanya, jika Yesus saja kawin dan mewariskan gerejanya kepada wanita, maka mengapa pengikutnya dilarang kawin dan melarang wanita menjadi pastor.
“Yesus Seminar”
Sebenarnya gagasan Dan Brown bukanlah hal baru. Tahun 1982, terbit buku Holy Blood, Holy Grail, yang bercerita tentang perkawinan Yesus dengan Mary Magdalene dan punya anak keturunan. Bahkan, soal kebangkitan Yesus itu sendiri menjadi perdebatan yang panas di kalangan teolog. Apakah kebangkitan itu benar-benar terjadi, atau sekedar cerita; apakah kebangkitan itu bersifat objektif atau subjektif.
Sejak tahun 1985, misalnya, sudah dimulai penyelidikan Yesus Sejarah yang lebih dikenal dengan nama ‘Jesus Seminar’ di Amerika Serikat. Mereka meragukan fakta historis, bahwa Yesus bangkit. Kelompok ini dimotori oleh John Dominic Crossan dan Robert W Funk yang disponsori oleh Westar Institute. Mereka mengadakan seminar-seminar di sejumlah kota di AS dan menerbitkan berbagai buku seperti The Five Gospel, The Acts of Jesus, dan The Gospel of Jesus.
Sejak ratusan tahun lalu, perdebatan tentang Yesus memang tidak pernah berhenti. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan dengan logika yang masuk akal, bahwa Yesus adalah Tuhan sekaligus manusia. Sejak awal-awal kekristenan, sudah muncul kelompok Arius yang menolak pendapat bahwa Yesus adalah Tuhan. Arius dan pengikutnya dikutuk Gereja.
Dalam bukunya, Who Killed Jesus (New York : Harper Collins Publishers, 1995), John Dominic Crossan, menulis cerita tentang kubur Yesus yang kosong adalah “satu cerita tentang kebangkitan dan bukan kebangkitan itu sendiri.” Cerita tentang Yesus seperti tertera dalam Bible, menurut Crossan, disusun sesuai dengan kepentingan misi Kristen ketika itu. Termasuk cerita seputar penyaliban dan kebangkitan Yesus.
Perdebatan seputar Yesus bahkan pernah menyentuh aspek yang lebih jauh lagi, yakni mempertanyakan, apakah sosok Yesus itu benar-benar ada atau sekadar tokoh fiktif dan simbolik? Pendapat seperti ini pernah dikemukakan oleh Arthur Drews (1865-1935) dan seorang pengikutnya William Benjamin Smith (1850-1934). Bahkan, perdebatan seputar Yesus itu kadangkala sampai menyentuh moralitas Yesus sendiri dalam aspek seksual. Soal ketidakkawinan Yesus misalnya: karena tidak mampu, karena tidak ada wanita, atau karena homoseks.
The Times, edisi 28 Juli 1967, mengutip ucapan Canon Hugh Montefiore, dalam konferensi tokoh-tokoh gereja di Oxford tahun 1967: “Women were his friends, but it is men he is said to have loved. The stricking fact was that he remained unmarried, and men who did not marry usually had one of three reasons: they could not afford it, there were no girls, or they were homosexual in nature.”
Jadi, wacana tentang Yesus dalam dunia akademis memang sudah bertebaran. Kelebihan Dan Brown adalah mampu mengangkat wacana itu ke dalam sebuah novel populer. “Ramuan yang tepat” antara fakta sejarah dan fiksi menjadikan novel ini memang berpotensi besar mengguncang kepercayaan iman Kristen. Apalagi, masyarakat Barat memang dikenal hobi dengan mitos dan legenda. Mereka tak henti-hentinya menciptakan berbagai fiksi dan mitos dalam kehidupan mereka : Superman, Batman, Spiderman, Rambo. Persis seperti nenek moyang mereka di Yunani Kuno. Kita tunggu saja, bagaimana kehebohan terjadi saat the Da Vinci Code muncul dalam bentuk film.
<Sumber dari : Majalah Insan, April 2005, dengan perubahan seperlunya>
Beneran gak sih, sampe segitunya? Ditunggu komentarnya